Pengukuhan Paskibraka

Posted by tHe RarEaNgOn

Tugas Pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) dalam peringatan HUT RI ke-65 tahun tugasnya sangatlah penting sebab selain berat tapi mulia, karenanya anggota Paskibraka agar melaksanakan tugas dengan penuh semangat dan tanggung jawab, sehinngga tugas yang diembannya dapat berjalan lancar dan sukses.
Dalam kesempatan itu Pemimpin Daerah, memimpin pengucapan ikrar putra Indonesia dan ditirukan oleh seluruh anggota Paskibraka, yang berisikan bersedia mengamalkan Paskibraka dalam kehidupan sehari-hari dan berniat serta bertekad mewujudkan pemuda sebagai harapan bangsa.
Selanjutnya para anggota Paskibraka secara bergantian memegang dan mencium bendera merah putih yang dibarengi dengan nyanyian Indonesia Raya yang dilantunkan oleh Paduan suara


Pengukuhan Paskibraka ini antara lain dihadiri Sekda, para Asisten Sekda, Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Camat, dan juga para orang tua dari anggota Paskibraka.
Pengukuhan yang berlangsung khidmad ini secara simbolisnya ditandai dengan pemakaian tanda peserta berupa ikat pinggang dari kain kepada dua orang perwakilan paskibraka oleh Kepala Daerah. Selerusnya diikuti oleh semua anggota Paskibraka yang lain. Acara diakhiri dengan ucapan selamat baik dari Kepala Daerah, Sekda, Kepala SKPD, Camat maupun dari orang tua anggota Paskibraka kepada anggota Paskibraka yang berseragamkan bawah putih atas putih.

Tanda Pengukuhan :

Sebagai tanda berakhirnya Latihan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Perintis / Pemuka (sebagaimana juga berakhirnya Latihan Kepemimpinan Pemuda / Kepemudaan tingkat lain) setiap peserta dikukuhkan oleh Penanggungjawab Latihan dengan pengucapan ”Ikrar Putera Indonesia” sambil memegang Sang Merah Putih dan kemudian menciumnya dengan menarik nafas panjang sebagai "kiasan" kesediaan untuk senantiasa setia dan membelanya.
Tanda pengukuhan berupa kendit atau pita/sabuk dibuat dari kain. Kendit adalah tanda ksatria pada zaman dahulu yang mengikrarkan kesetiaannya kepada kerajaan. Sebagai pemegang kendit, para peserta latihan pun diharapkan memiliki sifat ksatria dalam pemikiran, perkataan dan perbuatannya sehari-hari.
Awalnya, pada latihan untuk Pasukan pertama sampai keempat (1968–1971) kendit Tanda Pengukuhan masih polos dengan dua warna, masing-masing hijau untuk anggota pasukan dan ungu untuk para penatar / pembina. Karena kendit warna polos menyerupai sabuk kecakapan olahraga beladiri, maka oleh Idik Sulaeman disempurnakan menjadi kendit bermotif.
Motif tersebut berupa gambar rantai bulat dan belah ketupat seperti pada Lambang Anggota, dengan jumlah masing-masing 17 untuk rantai bulat dan rantai belah ketupat. Setiap mata rantai bulat maupun belah ketupat diisi dengan huruf yang membentuk kalimat ”PANDU INDONESIA BER-PANCASILA”.
Semula, ukuran lebar dan panjang kendit adalah 5 cm dan 17 cm, untuk melambangkan angka tanggal 17 (dari 17 Agustus 1945) dan 5 (jumlah sila dalam Pancasila). Namun, karena kesulitan teknik pencetakan motifnya, ukuran kendit baru dengan motif rantai dan huruf diubah menjadi lebar 5 cm dan panjang 14 dm (140 cm).



Tanda pengukuhan berupa lencana digunakan untuk pemakaian harian. Sebelum 1973, lencana ini hanya berupa merah putih —tanpa gambar garuda— dengan ukuran tinggi 2 cm dan panjang 3 cm. Lencana yang dipakai sejak 1973 sampai saat ini berbentuk persegi berukuran tinggi 1,8 cm dan panjang 4 cm, dengan tanda merah-putih di sebelah kanan dan Garuda di sebelah kiri (dilihat dari sisi pemakainya, bukan dari depan). Ukuran lencana untuk Penatar (warna ungu) sedikit lebih kecil, yakni tinggi 1,5 cm dan panjang 3,5 cm.
Warna dasar di belakang Garuda disesuaikan dengan jenis latihannya, atau dengan kata lain sama dengan warna dasar kenditnya.

• Warna hijau untuk Latihan Perintis/Pemula Pemuda
• Warna merah untuk Latihan Pemuka Pemuda
• Warna coklat untuk Latihan Penuntun Pemuda
• Warna kuning untuk Latihan Pendamping Pemuda
• Warna ungu untuk Latihan Penatar Kepemudaan
• Warna abu-abu untuk Latihan Penaya Kepemudaan

Kedua Tanda Pengukuhan, digunakan dengan ketentuan yang berbeda. Lencana pengukuhan dikenakan pada baju setinggi dada sebelah kiri (di atas saku kiri baju), baik pada seragam maupun baju biasa sehari-hari. Sedangkan kendit, dililitkan ke pinggang dan disimpulmatikan dibagian depan (perut) dan hanya dikenakan saat menghadiri upacara pengukuhan, tidak untuk sehari-hari.


0 komentar:

Poskan Komentar